Feeds:
Posts
Comments

Sore kemarin, sambil iseng ngabuburit aku ambil Kitab Mutiara Riyadhushshalihin yang udah lama kuanggurin dari lemari. Walhasil aku buka bab terakhir yang sudah kutandai, dan aku langsung disajikan pada Bab-Bab yang banyak berkaitan dengan perempuan (hehe). Selintas aku mikir, mungkin Allah minta aku untuk belajar memahami wanita dengan lebih baik ya?hehe. Maklum, katanya kaum hawa aku ini laki-laki yang nyebelin, suka seenaknya, dll**under censored**.
Eniwei, aku mulai dengan Bab tentang Menyayangi Anak Yatim, Anak Perempuan, dan Orang yang lemah serta miskin. Pada bab ini, aku diingatkan kembali dengan satu hadith Imam Bukhari yang artinya demikian,

“ Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga dengan posisi begini (seraya Rasulullah mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya hampir berdempetan).

Waah, kalo inget hadith ini pengen rasanya cepet-cepet jadi orang kaya (pengennya..), supaya bisa ngasih mereka lebih banyak. Kalo sekarang mah paling ngasi yang minta-minta serebu-serebu aja,yaah yg penting mah istiqomah dan ikhlasnya yah (alesan). Baru aja ngayal bayangin lg ngasi anak yarim orang miskin tiba-tiba aku disajikan dengan hadith lain dari Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang orang miskin.

Bahwasanya “Bukanlah (yang disebut) orang miskin itu orang yang berkeliling ke sesama manusia karena tergiur satu-dua biji kurma, atau satu dan dua suap makanan. Tetapi, orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai harta untuk mencukupi keperluannya dan tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk mengharapkan sedekah serta tidak pernah berjalan untuk meminta-minta pada orang lain”.

Subhanallah, betapa mulia Islam mengajarkan penganutnya untuk tetap mempertahankan harga dirinya. Adakalanya yang sudah berkecukupan pun masih saja mengemis harta, dengan cara yang pastinya berbeda dengan orang-orang miskin. Dari hadith ini, aku memahami satu hal bahwa Allah tidak ingin hamba-hambaNya mengemis kepada sesama hamba, Ia menginginkan kita hanya mengemis kepadaNya, ya, kepada yang Maha Kaya, yang Maha Memiliki Segala. Wallahu muwaffiq,

Sahabat, hadith selanjutnya makin membuatku tersentak, karena mungkin isinya menyinggung rencana yang sudah kupersiapkan akhir-akhir waktu ini. Beginilah Rasulullah bersabda,

“Makanan terburuk adalah makanan walimah (pesta) dimana orang yang memerlukan makanan itu tidak diundang dan orang yang tidak memerlukannya malah diundang. Barang siapa yang tidak memenuhi undangan walimah, maka dia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Diriwayatkan Imam Muslim)

Pesan yang aku terima setelah membaca hadith ini adalah, bahwa Allah, menginginkan kita untuk senantiasa memuliakan orang miskin, hingga di saat-saat bahagia kita, misalnya saat mengadakan pesta walimah, Allah memerintahkan kita untuk turut mengundang saudara-saudara kita yang membutuhkan, bukan hanya kerabat dan kolega kita. Masya Allah..Serasa ditampar babon **tiba-tiba puyeng**

Well, cerita tentang perempuannya belum ada yak..hehe setelah dicari-cari disinilah baru ketemu hadithnya. Satu hadith terakhir dari bab ini yang menurut saya cukup unik dan ingin saya share adalah hadith riwayat Bukhari-Muslim berikut:

‘Barang siapa yang mengasuh dua anak perempuannya hingga dewasa, maka pada hari kiamat kelak aku akan bersama orang itu bagaikan dua jemari ini” (Seraya Rasul merapatkan kedua jarinya).

Tau apa yang langsung terlintas dalam fikiranku?hehe **jadi pengen malu**. Aku mikir gini “wah untung banget ya Pak Narto dan Bu Narto (camer), anak mereka dua-duanya perempuan, yang satu masih ABG yang ga neko-neko, yang satu lagi udah ketauan shalihahnya ^_^. Praktisnya, buat yang anak-anak perempuan, kalau mau orangtuanya dilindungi dari siksa neraka, jadilah anak yang shalihah.

Eniwei kalo boleh menganalisa, menurutku hadith ini tidak terlepas kait dengan kebiasaan adat arab zaman jahiliyyah dahulu yang membunuh anak-anak perempuan mereka karena dianggap membawa sial bagi keluarga. Kejam banget ya, atas dasar apakah mereka dibunuh? Atas perbuatan keji ini Allah telah mengutuk perbuatan kaum jahiliyyah dalam Surah At-Takwir 8-9, yakni ketika kiamat menjelang, maka anak-anak perempuan itu pun dipertanyakan, atas dasar apa mereka dibunuh? Na’udzubillah, mari berlindung kepada Allah dari perbuatan keji ini.

Tapi, fikir punya fikir, sebetulnya bukan tanpa alasan bahwasanya kaum hawa ini dianggap membawa kesulitan, karena fitrahnya, dari sononya, wanita memang makhluk yang sangat unik. Yang dalam memperlakukan mereka, perlu pemahaman yang baik. Bersabda Rasul, sebagaimana dituturkan Imam Bukhari dan Muslim,

“Berpesan-pesan baiklah kalian terhadap kaum perempuan. (Ini) karena sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Karena itu, jika engkau memaksa dalam meluruskannya, maka akan hancurlah ia. Dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan bengkok selamanya. Karenanya, berpesan-pesan baiklah terhadap perempuan.”

Inti hadith ini menurutku adalah, dalam mengajak perempuan pada kebaikan dengan cara paksa justru akan menghancurkannya. Nah mungkin dampak lebih detilnya bisa ditanyakan pada psikolog yak..Tapi jika kita tetap membiarkannya, dalam hadith lain dikatakan “hanya ingin bersenang-senang dengannya, maka engkau akan puas, namun niscaya mereka akan tetap bengkok.” . Perihal ini, aku jadi teringat pesan ustadzku waktu masih mondok di pesantren,

”wanita itu ibarat pasir, jika kau genggam ia terlalu erat pasir itu akan berhamburan, begitupun jika kau lepaskan genggamanmu, berhamburan jua ia”.

Subhanallah..complicated juga makhluq Allah yang satu ini yah. Tapi gimana lagi, laki-laki memang membutuhkan satu rusuknya itu kembali utuh dalam dirinya. Well, next aku akan cerita-cerita lagi tentang bagaimana perjalanan mencari “rusuk emas” ini, lalu bagaimana setelah ia kembali utuh dalam diri kita.
Semoga hasil keisengan ini bermanfaat.

Salam.

Advertisements

Ba’da maghrib in my home sweet home

Mama sedikit kesal pada Hadi, Adik kecilku yang game-addicted. Sejak pulang sekolah, tidak ada yang dilakukannya selain bermain game. Maka tadi,selepas sholat maghrib mama memaksanya berhenti bermain game dan menyuruhnya mengaji bersamaku. Sambil bersungut-sungut bocah itu pun akhirnya memakai sarungnya dan mengambil posisi bersila di ruang tamu. Dan mulailah dia mengaji, merapal surah Alfiil, cukup baik, aku hanya butuh membenarkan beberapa makharijul huruf saja.

Setelah habis satu surah dilafalkan, aku bertanya padanya “De, tau ga artinya surah alfiil apa?”. “Gajaaah”, seru adikku ^_^. “Mau ga aa certain kenapa namanya surah gajah?”. “Mau mau mau” sambil memperhatikan wajah riang nan bersemangat itu akupun mulai bercerita, aku mulai dari kecongkakan Abrahah yang berakhir dengan murka Tuhan, hingga hikmah kelahiran Muhammad, Sang Rasul.

Habis satu cerita itu, hadi semakin bersemangat. Lantas dipilihnya secara acak surah yang ingin dia baca, dengan harapan akan ada cerita lain setelah dia membacanya. Dia pun menunjuk surah Attakatsur (orang yang bermegah-megahan).
1.“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”
2. sampai kamu masuk dalam kubur
3.Sekali kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu,
4.Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui.
5.Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti (‘Ilmal Yaqin)
6.Niscaya kamu akan benar-benar melihat neraka Jahim,
7.kemudian kamu akan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri (‘ainal yaqin)
8.Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (dunia).

“Hmm..yang satu ini agak berbobot nih” aku mencoba mencari point of view yang lebih mudah dicerna bocah kelas 3 SD. Aku ingat aku pernah mendapat pengajian hikmah ini dalam salahsatu majlis ilmu yang pernah kuikuti.

And there it goes.
Jadi cerita hikmah surah attakatsur itu kayak begini de. Aa buat permisalan yaa. Ini cerita tentang tiga orang anak yang suka sekali bermain game (hehe,,nyindir nih), namanya Fuad, Dudung, dan Badu. Mereka punya game-console yang sama, PS2, sama kayak dede. Ceritanya waktu itu lagi musim ulangan nih, nah ketiga anak itu sekelas semua. Mereka semua pintar dan dapat ranking di kelasnya, makanya mereka dapet hadiah PS2. :p

Seminggu sebelum ulangan, Fuad udah mulai bikin jadwal belajar. Dia ingat slogan yang sering disebut gurunya, Rajin itu pangkal…? Iya betul. Dan dia juga ingat nasihat dari papanya, kalau mau berhasil harus Disi…? Yee,,bukan disitu, tapi di..si..plin. Dan dia percaya kalo dia rajin dan disiplin dia pasti bisa…? Yup,pinter. Ini yang namanya ‘Ilmu Yaqin de. Dia yakin dengan ilmunya: bahwa dengan bekal rajin dan disiplin dia pasti bisa berhasil. OK? Nah Fuad kan suka main game tuh, tapi kalo dah waktu sholat dia sholat, waktunya makan dia makan, dan waktunya belajar dia? Iyaa, dia percaya kalo disiplin pasti berhasil. Alhasil, waktu ulangan, dia bisa ngerjain soalnya sambil nyantai. Set..set..set..beres..Hehe
Lain Fuad lain Badu. Bocah yang satu ini,meskipun pinter tapi susah banget diatur. Kerjanya main gaaame terus. Tiap hari dimarahin terus sama mamanya,”Badu kalo kamu gak makan nanti sakit..Badu,kalo kamu ga belajar gimana mau pinter?” tapi tetep aja, disuruh makan susah, disuruh sholat males, apalagi disuruh belajar. Paling-paling ngelepas stick klo dia mau beol, nah itu mah ga usah disuruh juga udah lari kebirit-birit.hehe.

Karena si Badu ga disiplin, sehari sebelum ulangan si Badu susah bangun tidur, kepalanya berat-pusing, badannya meriang pegel-pegel, idungnya pesek (eh itu mah udah dari lahir). Ya pokoknya hari itu dia sakit, dan besoknya dia ga bisa ikut ulangan. Si Badu menyesal, dan berjanji ga akan mengulangi lagi. Nah ini yang namanya Haqqul Yaqin. Haqq itu bukti, Yaqin itu percaya; artinya, dia baru mau ngerti dan percaya kalo udah ngerasain akibatnya, udah kena batunya. Gituu..
Setelah tau sahabatnya Badu ga ikut ulangan, si dudung nanya ke Bu Guru. “Ibu, kenapa si badu ga ikut ulangan?”. Sang Guru pun menjawab dengan bijak dan serius,“Tadi mamanya datang bawa surat dokter, katanya Badu kena gejala typhus dan harus istirahat selama seminggu. Itu gara-gara keseringan main EsEs itu loh dung,” “Pees kali bu!” “nah iya itu Pepes, makanya kamu jangan ikut-ikutan kayak dia. Mau kamu sakit typhus terus ga bisa ulangan?” Dudung menggeleng. Selepas pulang sekolah dudung dan teman-teman sekelasnya menjenguk Badu. Melihat kondisi Badu yang merana itu, Dudung jadi berfikir, “Ah aku ga mau sakit gara-gara main PS, tar ga bisa ulangan, trus ga bisa dapet ranking, trus ga dapet hadiah deh..Haah udah jatoh ketimpa tangga, dicakar kucing, dibeolin burung. Ogaah”. Nah ini de, namanya ‘Ainul Yaqin. ‘Ain itu mata, Yaqin itu?..Iyap, dia baru percaya setelah melihat buktinya. Yah lebih mendingan daripada Badu sih..
Nah jadi dede maunya jadi kayak siapa? (Nyengir-nyengir).

3 Golongan itu di Indonesia
Kaitan cerita diatas dengan kondisi faktual, menurut saya, mayoritas masyarakat Indonesia menganut faham Haqqul Yaqin, alias baru jera setelah kena batunya. Kita bisa memperhatikan dari yang ada di sekitar kita, rokok misalnya.
Rasanya sudah tak perlu lagi dituliskan bahwa “Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Impotensi, Gangguan Kehamilan dan Janin” (tetep aja ditulis ^_^). Setiap kali ada iklan rokok apapun di media manapun tulisan seperti itu pasti ada. Tapi toh nyatanya para perokok tidak menghiraukannya. Saya bahkan pernah melihat poster yang sangat ekstrim menggambarkan “badan yang cacat rusak akibat merokok” di beberapa rumah sakit dan di klinik dokter. Suatu waktu saya sekeluarga sedang mengantar adik ke klinik dokter, adik saya yang melihat poster itu memanggil Papa, “Pah tuh liat tuh kalo ngerokok jadinya kaya begitu tau”. Saya jadi ngakak-ngakak sendiri (agak tersindir juga sih, soalnya kadang suka merokok).
Sodara-sodara, para perokok bukannya tidak bisa melihat peringatan ini, tapi mereka tidak terlalu “percaya” alias belum yaqin. Faktor yaqin ini lah yang belum ada di hati mereka.

Bagi mereka yang faham betul mengenai akibat merokok, seperti misalnya teman-teman yang di kedokteran maupun ilmu kesehatan. Mayoritas mereka tidak atau berhenti merokok dan bahkan melakukan kampanye edukatif anti rokok karena mereka tau persis bahwa dalam rokok mengandung minimal sekitar 7000 jenis zat karsinogenik yang sangat potensial untuk menyebabkan kanker, pun mereka faham penyakit apa saja yang dapat diakibatkannya, seperti apa gejala, akibat, dan resiko bagi penderitanya. Mereka ini bisa digolongkan sebagai Ilmul Yaqin; orang-orang yang ber
tindak berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Mereka Inilah golongan elit, karena jumlahnya sangatlah minim.
Satu level dibawahnya, adalah golongan ‘Ainul Yaqin. Mereka belum “ngeh” akan bahaya merokok jika belum cukup informasi yang meyakinkan mereka. Mereka tidak akan berhenti merokok, sampai suatu ketika ada kerabatnya yang perokok sejati, meninggal karena menderita kanker paru-paru, atau ada tetangganya yang perokok cerai karena suaminya kehilangan kejantanan (baca-impoten), atau bahkan melihat Pak RT di lingkungannya (perokok berat) terkena gangguan kehamilan dan janin (ini jauh lebih mengerikan, sumpah..). Atau ketika melihat ada yang mati tertabrak mobil box rokok ketika merokok di tengah jalan (ini namanya lebay).

Dan sodara-sodara, kita sudah sampai di level terbawah yang menjadi mayoritas diantara kita: inilah level haqqul yaqin. Bagi mereka, informasi bahaya rokok itu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, larangan merokok yang jelas terlihat, masuk mata kiri keluar mata kanan, dan asap rokoknya masuk lobang hidung kiri keluar lobang hidung kanan (keren banget yah?). Bahkan, ketika ada orang-orang di lingkungannya yang “kena batunya” akibat merokok (seperti dicontohkan di paragraph sebelumnya), dia tak akan jua jera. Kira-kira jawaban mereka gini deh “Aah,,itu kan lagi apesnya si X aja makanya dia jadi mandul”, atau “Aah,salahnya Pak RT aja ga ngerti tekniknya makanya dia kena gangguan kehamilan dan janin”, dan rupa-rupa jawaban ngeles yang lain yang sulit diikuti. Bagai bajay dibelah dua deh. Satu aja udah susah ditebak apalagi dibelah dua.

Right Man in The Right Treat
Tentunya bagi masing-masing golongan ini perlu ada perlakuan yang berbeda. Supaya masing-masing mendapat rasa adil, dan supaya hikmah peringatan dari surah Attakatsur ini bisa dirasakan. Bagi mereka golongan elit, ‘Ilmul Yaqin, perlu tentunya diberikan apresiasi yang setinggi-tingginya karena mereka, dengan ilmunya, at least telah menjadi contoh yang baik dalam menghindari sesuatu yang membawa madharat. Poin plus lagi jika mereka mau memberikan kampanye edukatif untuk lingkungan sekitarnya. Mengutip surah Attakatsur ayat 5, “..sekiranya kamu mengetahui dengan pasti (‘Ilmul Yaqin)”, yang bisa diartikan seandainya semua orang termasuk golongan ‘Ilmul Yaqin, yang mereka faham betul apa akibatnya jika mereka berbuat ini dan itu, sehingga mereka menjadi orang yang terbimbing dan tercerahkan dengan ilmunya. Bukankah Allah juga menyatakan bahwa para ahli ilmu ini akan ditinggikan kedudukannya beberapa derajat? (Almujaadilah:11). Idealnya tentu kita menginginkan semua orang menjadi golongan ‘ilmul yaqin, ya minimal diri sendiri.
Lantas bagaimanakah caranya mencapai taraf ‘Ilmul Yaqin ini? Adalah pendidikan, suatu cara untuk kita mencapai level ‘ilmul Yaqin. Dalam penerapannya, beberapa sampel kampanye edukatif anti rokok sudah kita lihat cukup banyak, namun tentunya kegiatan seperti ini harus terus ditingkatkan dan dicari cara yang paling efektif. Misalnya pada lingkungan pendidikan SD-SMP-SMA, dimana banyak sekali generasi muda yang sangat potensial untuk jadi generasi perokok dan sudah banyak juga yang menjadi perokok di usia sangat muda. Kita harus melihat bahwa di lain sisi, mereka juga sangat potensial untuk menjadi generasi antirokok. Pendidikan adalah langkah yang tepat untuk merekrut sebanyak-banyaknya orang ke level ‘Ilmul Yaqin ini.

Solusi pendidikan ini juga berlaku untuk level ‘Ainul Yaqin. Karena perlakuan yang tepat bagi mereka adalah dibuka mata selebar-lebarnya dan diberikan informasi/bukti yang nyata hingga muncul keyakinan di dalam dada (halah,,). Kembali mengutip surah Attakatsur, digambarkan bahwa golongan ‘Ainul Yaqin ini diperlihatkan kepadanya “neraka Jahim” dengan mata kepala sendiri, sehingga mereka tersadar akan akibat dari kesalahan yang mereka perbuat.
Sementara bagi level haqqul yaqin, satu-satunya cara untuk membuat mereka sadar adalah punishment. Mungkin dengan sendirinya para perokok akan mendapat hukuman itu ketika penyakit-penyakit yang menjadi ancaman akhirnya mereka derita. Namun dalam banyak contoh, mereka seringkali tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga orang lain. Beberapa perokok terlalu egois sehingga dengan innocentnya merokok di tempat umum tanpa peduli apakah disana ada ibu hamil, bayi, atau orang lain yang merasa dirugikan karenanya. Untuk mencegah adanya orang-orang egois yang membawa mudharat seperti ini, tentu perlu ada tindak hukuman yang tepat.

Beberapa Pemda seperti Jakarta dan Surabaya, sudah memberlakukan regulasi Perda Antirokok, sementara beberapa daerah lain sudah mulai mewacanakannya. Meskipun masih banyak inektifitas disana-sini, setidaknya sudah ada usaha untuk memberikan penyadaran. Karena inti tujuan dari pemberian sanksi ini adalah terciptanya kesadaran bersama hingga mencapai taraf yang ideal.

Sampel yang dijadikan analogi “perbuatan buruk” dalam tulisan ini adalah merokok, dengan neraka jahimnya berupa kanker, impotensi, gangguan kehamilan, dan janin. Tentu kita bisa menarik sampel yang lain dalam kerangka ini. Namun pada sampel apapun itu, akan selalu ditemukan 3 golongan yang menyikapinya: ‘Ilmul Yaqin yang tercerahkan, ‘Ainul Yaqin yang perlu dicerahkan, dan Haqqul Yaqin yang perlu disadarkan dengan hukuman. Tentu kita berharap menjadi orang-orang yang ‘Ilmul Yaqin. Yakni golongan orang-orang yang dengan ilmunya tidak hanya tercerahkan namun dapat juga mencerahkan orang lain.

Cogito Ergo Sum

Sigmud Freud, salah seorang pencetus hedonisme, dalam teorinya mengungkapkan bahwa manusia itu hanya sekedar makhluk yang ingin memenuhi keinginannya saja (baca: nafsu yang cenderung ke arah seks). Pertanyaannya, apakah benar hidup kita hanya terbatas pada pemenuhan nafsu? Lantas apakah bedanya manusia dengan seekor keledai yang juga hidup dalam nafsu : mencari makan, kawin, beranak dan lalu mati? Lantas untuk apakah akal ini ada, dan nurani insan bercerita pada kekuatan misteri yang menguasai dirinya? Socrates mengajak kita untuk berfikir dan merenung pada esensi eksistensi ini. Cogito Ergo Sum katanya, ”Aku berfikir maka aku ada”.Mari kita pertimbangkan apakah benar hedonisme merupakan pilihan hidup modernis yang akan membawa kita menuju kebahagiaan sejati. Plato, seorang filsuf besar dunia mengatakan,

”Nanti dalam kehidupannya, manusia akan terjebak dalam sebuah gua dengan kesenangan-kesenangan yang menghiasi di dalamnya. Seolah-olah disana mereka telah mencapai akhir tujuan hidup hingga mereka takut keluar dari gua untuk melihat dunia luar. Mereka cukup puas mengecap bahagia. Namun kebahagiaan itu sebenarnya kosong. Mereka tidak mengenali siapa sejatinya dan belum melihat keindahan luar biasa di luar dunia gua mereka.”

Analogikan bahwa diri ini adalah gua yang gulita, dimana diri hanya bisa melihat jasad dan kehidupan yang dilengkapi ego dan keinginan-keinginan: harta, seks, maupun afektif. Adapun hedonisme merupakan fungsi pada pemenuhan keinginan-keinginan itu. Segenap akal yang dimilikinya terperangkap pada kegelapan yang sempit untuk memikirkan pemuasan ego dan keinginan sekaligus mengabaikan hal-hal lain diluar pemenuhan itu. Sigmun Freud sendiri adalah seorang atheis yang tidak percaya pada penciptaan, pada kehidupan setelah mati. Dalam fikirannya hidup hanya untuk saat ini saja, dipuaskan sesaat lalu tiada.
Sementara di luar gua tersebut ada semesta raya yang selalu membuat kita berdecak kagum pada keindahannya dan kompleksitasnya yang serasi dan teratur. Seorang Harun Yahya, penemu teori keruntuhan evolusi telah memberikan gambaran yang memukau mengenai keajaiban alam semesta. Bahwa tidak mungkin semesta terjadi secara kebetulan. Pasti ada suatu eksistensi yang berada dibalik itu semua : pemilik, penjaga, pengatur, dan pemelihara alam semesta. Dunia luar inilah yang jauh dari jangkauan para hedonis. Mereka mandeg pada daya fikir ego dan nafsu sebagai manifes kehidupan hewani adanya. Hedonisme sangat jauh dari modernisme yang berfikir secara seksama dan berpandangan luas mengenai diri dan semestanya.
Maka mari kita beranjak pada cara berfikir yang lebih progresif tentang kehidupan ini dan merenungkannya dengan bijaksana. Bahwa sejak dilahirkan, manusia tidak mengenal hakikinya, pun hakiki semestanya. Ia gulita bersama tanda tanya: siapa aku, mau kemana aku, untuk apa aku hidup? Maka 14 abad silam, Sang Pemilik semesta ini memperkenalkan diriNya melalui risalah Al-Qur’an :
”Sungguh Aku ini ALLAH, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku..”
(QS.Thaha:14)
”Milik ALLAH lah segala apa yang ada di langit dan bumi..”
(QS. Albaqarah : 285)
Bahwa ALLAH adalah Tuhan semesta alam, satu-satunya yang layak disembah oleh manusia dan segenap makhluk-Nya. Karena Ialah pemilik jagat raya ini, pengatur dan pemeliharanya.
Melalui risalah itu pula ALLAH mempertunjukkan kebenaran demi kebenaran bagi manusia. Dibelalakkannya mata manusia pada ayat-ayat-Nya. Perhatikan ayat berikut :

” Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian kami menjadikannya mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluq dalam bentuk yang lain. Maha suci ALLAH , pencipta yang paling baik. (QS. Almu’minuun : 12-14)

Ayat penciptaan manusia ini merupakan temuan yang sangat spektakuler. Dapat kita bayangkan Rasulullah Muhammad, seorang lelaki buta huruf, 14 abad silam mempresentasikan kronologi penciptaan manusia secara ilmiah. Sementara ilmuwan modern baru menemukan kebenarannya pada abad milenium ini. Demikianlah ALLAH mengirim sinyal-sinyal hikmah melalui lintas qauniyah-qauliyah untuk meyakinkan manusia akan eksistensi ALLAH sebagai Tuhannya, Penguasa jagat semesta.
Selanjutnya ALLAH memberikan tuntunan kepada manusia mengenai tujuan hidup mereka, dan apa peran yang harus dilakukan.

”Dan tiada Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. At-Tur: 56)
” Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
(QS.Al-Anbiya : 107)

Bahwa sesungguhnya manusia membawa misi suci sejak ia dilahirkan, yakni sebagai rahmat (penebar kasih sayang) bagi semestanya semata-mata dalam kerangka ibadah kepada Tuhannya, Rabb semesta. Sebuah misi suci yang tidak dimiliki sekte hedonisme, suatu tujuan hidup yang akan bermuara pada pembalasan yang adil di akhirat kelak. Orang-orang yang beriman kapada ALLAH dan berbuat baik akan mendapat balasan baik berupa surga yang kekal nikmatnya, sementara Orang-orang yang ingkar dan berbuat kerusakan di muka bumi akan ditempatkan dalam neraka yang penuh siksa dan derita.
Sebagai penyempurna, ALLAH telah mengutus RasulNya untuk dijadikan panutan tingkah dan tata cara hidup manusia agar ia tak tersesat dalam kehidupan dunia.

”..maka kembalikanlah ia (urusan dunia) kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. Annisa : 59)

Fenomena aktual berbicara, gaya hidup hedonis telah merasuki sebagian besar kehidupan manusia. Khususnya di Indonesia, hedonisme tidak hanya menjangkiti kehidupan di kota-kota besar namun bahkan telah merangsek ke pelosok desa. Melalui tayangan-tayangan televisi, para pemirsa dibius pada halusinasi kehidupan hedonisme yang penuh kesenangan dan keindahan. Perhatikanlah tayangan sinetron indonesia yang penuh glamor, kehidupan artis yang serba bebas di serba-serbi gosip, dan perilaku-perilaku amoral yang dipertontonkan vulgar pada tayangan tengah malam.
Masyarakat diajak pada kehidupan yang melawan fitrahnya, memperturutkan hawa nafsunya, dan melupakan entitas dirinya. Maka tidak heran apabila kehidupan sosial indonesia berundur pada gaya hidup jahiliah, kegelapan yang dipenuhi kebodohan. Seks bebas digandrungi, pelacuran diminati, perselingkuhan jadi tren, Napza dan miras jadi pelarian, kriminalitas bertebaran, dan bencana datang bergantian. Ini merupakan suatu konsekuensi logis bahwa ketika manusia dibiarkan hidup sebebas-bebasnya, tanpa aturan yang benar, maka yang terjadi adalah kekacauan dan malapetaka. Bahwa ketika manusia, menebangi hutan seenaknya, yang terjadi adalah kebanjiran. Bahwa ketika dana pendidikan dikorupsi maka konsekuensinya adalah degradasi kualitas siswa didiknya.
Betapa ALLAH Maha Kasih telah berulang kali mengingatkan manusia untuk kembali kepada agamaNya yang fitrah, bukan pada kehidupan sebebas-bebasnya (hedonisme). ALLAH telah ingatkan kita melalui bencana tsunami, gempa bumi, banjir bandang, paceklik berkepanjangan, kecelakaan transportasi, penguasa yang lalim, dan segala keresahan-kesempitan dalam hidup ini. Maka seharusnya, sebagai manusia yang bijak dan berfikir, kita kembali pada fitrah kita dan misi suci kita : hamba ALLAH yang senantiasa hidup untuk menebarkan kasih sayang di muka bumi ini, amar ma’ruf nahi munkar.

”Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.”
(Al-Mursalat:28)

Dalam hidup yang hanya sepetak ini, dalam usia yang jua tak seberapa, aku tau tempat akhir berpulangku: Kepada Nya, hanya kepada Nya. Sejak bermula pun sudah aku tentukan, sudah aku ikrarkan, melalui muasalku: tentang kemana akhir ku menuju, tentang siapa yang kan memanduku, tentang bagaimana kalbu ini menuntunku. Dan betapa sepetak hidup ini mengisahkan begitu banyak rona, begitu banyak kesan yang mendalam, melalui perenungan, melalui pengamatan, melalui percakapan, melalui peristiwa jiwa, melalui sekelebat ma’rifat yang masih tersekat, melalui juntai-rangkai jejak kehidupan yang membingungkan.

Hidup memang hanya sepetak, namun selaksa peristiwanya tlah menuntunku pada persimpangan-persimpangan jalan. Bukan satu, bukan sepuluh, tapi seribu. Duhai sahaya yang lemah ini betapa tiada letihnya menerjang aral, menepis godaan, meneriaki diri, demi mengais bahagia atas nama cinta Nya.

Hidup memang hanya sepetak, akan tetapi setiap mili-nya dipenuhi dengan misteri. Aku pun berjalan, selangkah demi selangkah. Menyusun keeping-keping puzzle yang berserakan. Menikmati keberhasilan atas keberhasilan. Merutuki kebodohan dan kekhilafan. Sekali lagi, hanya demi mengais bahagia atas nama cintaNya.

Maka Ya Rabb..Betapapun hebatnya aku dihadapan hambamu, betapapun gagahnya aku mengenakan topeng-topeng dunia, di hadapanMu aku menyerah, aku berserah, aku pasrah.

Demi setetes cintaMu yang sangat menyejukkan itu, yang beningnya mampu menghapuskan semua laraku, yang damainya mengggetarkan isak tangisku, yang nikmatnya membuatku tak henti bersyukur padaMu, aku mohon..berikan aku petunjukMu

Aku Ini Muslim

Aku ini muslim, meski sebersit ragu masih merajai hati akan hari akhir yang telah dijanji.

Aku mengaku muslim walau galau cinta akan dunia mengalahkan seruan jiwa tuk kembali menyentuh cintaNya.

Aku jelas muslim, ketika ada momen religi maka ku bergegas bertopeng kiyai, lepas itu aku kembali seraya berkata: “sungguh tadi hanyalah lakonan, aku masih bagian dari kalian, dunia, kau peranku sebenarnya”.

Aku pastinya muslim karena terkadang aku sembahyang meski kemudian kembali larut dalam pusara nafsu yang mengubur puisi Tuhan dibawah bait-bait syaitan.

Aku, masihkah muslim? Dari puing-puing kesadaran diantara belantara ke’aku’an yang mengakar di bumi igauan.

Aku masihkah merindu cahaya yang menerjang gelap hati dan menorah damai yang abadi.

Yaa Robb tuntun aku kembali padaMu. Robbana laa tuzighquluubana ba’da idzhadaitana wa tawaffana ma’alalabror.

Bangkit Lawan Korupsi

Berkarat jua repih rentah yang ditanggung nusa demi mengais asa kembalinya patriot Nusantara. Entah triliyun entah bilyun harta dan harga bangsa digadaikan dalam pelacuran kapitalisme. Anak bangsa kini sudah menjelma bagai tuba yang merusak belanga khatulistiwa. Aku, kamu tentu tak kan diam saja. Bangkit!! Lawan korupsi!!

I’tikaf Hati

Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dan berhenti sejenak demi mengingat ILAHI?

Hendaknya mereka tidak menjadi seperti orang-orang pewaris alkitab dahulu yang jauh meninggalkan ajaran RosulNya, sehingga hati mereka menjadi keras dan banyak dari mereka menjadi fasik. Saabat, diir yang ringkih ini perlu perhatian dari penat lekatnya dunia.

Mari duduk sejenak dalam majlis iman, Kita tanyakan kabar  hati, masihkah ia merinudu Cahaya ILAHI?

Adakah ia berguncang kala membayangkan dosa-dosa diri.

Kita berkaca pada jiwa melihat wajah dengan seksama, dustanya, khianatnya, borok-boroknya yang selama ini kita pelihara, kita topengi dengan cantiknya dunia.

Sahabat, kita perlu diam sesaat menoropong lagi kampong akirat: di sudut mana kelak kita beristirahat? Sahabat, mari I’tikafkan hati kembali pada ILAHI.