Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2010

Ba’da maghrib in my home sweet home

Mama sedikit kesal pada Hadi, Adik kecilku yang game-addicted. Sejak pulang sekolah, tidak ada yang dilakukannya selain bermain game. Maka tadi,selepas sholat maghrib mama memaksanya berhenti bermain game dan menyuruhnya mengaji bersamaku. Sambil bersungut-sungut bocah itu pun akhirnya memakai sarungnya dan mengambil posisi bersila di ruang tamu. Dan mulailah dia mengaji, merapal surah Alfiil, cukup baik, aku hanya butuh membenarkan beberapa makharijul huruf saja.

Setelah habis satu surah dilafalkan, aku bertanya padanya “De, tau ga artinya surah alfiil apa?”. “Gajaaah”, seru adikku ^_^. “Mau ga aa certain kenapa namanya surah gajah?”. “Mau mau mau” sambil memperhatikan wajah riang nan bersemangat itu akupun mulai bercerita, aku mulai dari kecongkakan Abrahah yang berakhir dengan murka Tuhan, hingga hikmah kelahiran Muhammad, Sang Rasul.

Habis satu cerita itu, hadi semakin bersemangat. Lantas dipilihnya secara acak surah yang ingin dia baca, dengan harapan akan ada cerita lain setelah dia membacanya. Dia pun menunjuk surah Attakatsur (orang yang bermegah-megahan).
1.“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”
2. sampai kamu masuk dalam kubur
3.Sekali kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu,
4.Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui.
5.Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti (‘Ilmal Yaqin)
6.Niscaya kamu akan benar-benar melihat neraka Jahim,
7.kemudian kamu akan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri (‘ainal yaqin)
8.Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (dunia).

“Hmm..yang satu ini agak berbobot nih” aku mencoba mencari point of view yang lebih mudah dicerna bocah kelas 3 SD. Aku ingat aku pernah mendapat pengajian hikmah ini dalam salahsatu majlis ilmu yang pernah kuikuti.

And there it goes.
Jadi cerita hikmah surah attakatsur itu kayak begini de. Aa buat permisalan yaa. Ini cerita tentang tiga orang anak yang suka sekali bermain game (hehe,,nyindir nih), namanya Fuad, Dudung, dan Badu. Mereka punya game-console yang sama, PS2, sama kayak dede. Ceritanya waktu itu lagi musim ulangan nih, nah ketiga anak itu sekelas semua. Mereka semua pintar dan dapat ranking di kelasnya, makanya mereka dapet hadiah PS2. :p

Seminggu sebelum ulangan, Fuad udah mulai bikin jadwal belajar. Dia ingat slogan yang sering disebut gurunya, Rajin itu pangkal…? Iya betul. Dan dia juga ingat nasihat dari papanya, kalau mau berhasil harus Disi…? Yee,,bukan disitu, tapi di..si..plin. Dan dia percaya kalo dia rajin dan disiplin dia pasti bisa…? Yup,pinter. Ini yang namanya ‘Ilmu Yaqin de. Dia yakin dengan ilmunya: bahwa dengan bekal rajin dan disiplin dia pasti bisa berhasil. OK? Nah Fuad kan suka main game tuh, tapi kalo dah waktu sholat dia sholat, waktunya makan dia makan, dan waktunya belajar dia? Iyaa, dia percaya kalo disiplin pasti berhasil. Alhasil, waktu ulangan, dia bisa ngerjain soalnya sambil nyantai. Set..set..set..beres..Hehe
Lain Fuad lain Badu. Bocah yang satu ini,meskipun pinter tapi susah banget diatur. Kerjanya main gaaame terus. Tiap hari dimarahin terus sama mamanya,”Badu kalo kamu gak makan nanti sakit..Badu,kalo kamu ga belajar gimana mau pinter?” tapi tetep aja, disuruh makan susah, disuruh sholat males, apalagi disuruh belajar. Paling-paling ngelepas stick klo dia mau beol, nah itu mah ga usah disuruh juga udah lari kebirit-birit.hehe.

Karena si Badu ga disiplin, sehari sebelum ulangan si Badu susah bangun tidur, kepalanya berat-pusing, badannya meriang pegel-pegel, idungnya pesek (eh itu mah udah dari lahir). Ya pokoknya hari itu dia sakit, dan besoknya dia ga bisa ikut ulangan. Si Badu menyesal, dan berjanji ga akan mengulangi lagi. Nah ini yang namanya Haqqul Yaqin. Haqq itu bukti, Yaqin itu percaya; artinya, dia baru mau ngerti dan percaya kalo udah ngerasain akibatnya, udah kena batunya. Gituu..
Setelah tau sahabatnya Badu ga ikut ulangan, si dudung nanya ke Bu Guru. “Ibu, kenapa si badu ga ikut ulangan?”. Sang Guru pun menjawab dengan bijak dan serius,“Tadi mamanya datang bawa surat dokter, katanya Badu kena gejala typhus dan harus istirahat selama seminggu. Itu gara-gara keseringan main EsEs itu loh dung,” “Pees kali bu!” “nah iya itu Pepes, makanya kamu jangan ikut-ikutan kayak dia. Mau kamu sakit typhus terus ga bisa ulangan?” Dudung menggeleng. Selepas pulang sekolah dudung dan teman-teman sekelasnya menjenguk Badu. Melihat kondisi Badu yang merana itu, Dudung jadi berfikir, “Ah aku ga mau sakit gara-gara main PS, tar ga bisa ulangan, trus ga bisa dapet ranking, trus ga dapet hadiah deh..Haah udah jatoh ketimpa tangga, dicakar kucing, dibeolin burung. Ogaah”. Nah ini de, namanya ‘Ainul Yaqin. ‘Ain itu mata, Yaqin itu?..Iyap, dia baru percaya setelah melihat buktinya. Yah lebih mendingan daripada Badu sih..
Nah jadi dede maunya jadi kayak siapa? (Nyengir-nyengir).

3 Golongan itu di Indonesia
Kaitan cerita diatas dengan kondisi faktual, menurut saya, mayoritas masyarakat Indonesia menganut faham Haqqul Yaqin, alias baru jera setelah kena batunya. Kita bisa memperhatikan dari yang ada di sekitar kita, rokok misalnya.
Rasanya sudah tak perlu lagi dituliskan bahwa “Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Impotensi, Gangguan Kehamilan dan Janin” (tetep aja ditulis ^_^). Setiap kali ada iklan rokok apapun di media manapun tulisan seperti itu pasti ada. Tapi toh nyatanya para perokok tidak menghiraukannya. Saya bahkan pernah melihat poster yang sangat ekstrim menggambarkan “badan yang cacat rusak akibat merokok” di beberapa rumah sakit dan di klinik dokter. Suatu waktu saya sekeluarga sedang mengantar adik ke klinik dokter, adik saya yang melihat poster itu memanggil Papa, “Pah tuh liat tuh kalo ngerokok jadinya kaya begitu tau”. Saya jadi ngakak-ngakak sendiri (agak tersindir juga sih, soalnya kadang suka merokok).
Sodara-sodara, para perokok bukannya tidak bisa melihat peringatan ini, tapi mereka tidak terlalu “percaya” alias belum yaqin. Faktor yaqin ini lah yang belum ada di hati mereka.

Bagi mereka yang faham betul mengenai akibat merokok, seperti misalnya teman-teman yang di kedokteran maupun ilmu kesehatan. Mayoritas mereka tidak atau berhenti merokok dan bahkan melakukan kampanye edukatif anti rokok karena mereka tau persis bahwa dalam rokok mengandung minimal sekitar 7000 jenis zat karsinogenik yang sangat potensial untuk menyebabkan kanker, pun mereka faham penyakit apa saja yang dapat diakibatkannya, seperti apa gejala, akibat, dan resiko bagi penderitanya. Mereka ini bisa digolongkan sebagai Ilmul Yaqin; orang-orang yang ber
tindak berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Mereka Inilah golongan elit, karena jumlahnya sangatlah minim.
Satu level dibawahnya, adalah golongan ‘Ainul Yaqin. Mereka belum “ngeh” akan bahaya merokok jika belum cukup informasi yang meyakinkan mereka. Mereka tidak akan berhenti merokok, sampai suatu ketika ada kerabatnya yang perokok sejati, meninggal karena menderita kanker paru-paru, atau ada tetangganya yang perokok cerai karena suaminya kehilangan kejantanan (baca-impoten), atau bahkan melihat Pak RT di lingkungannya (perokok berat) terkena gangguan kehamilan dan janin (ini jauh lebih mengerikan, sumpah..). Atau ketika melihat ada yang mati tertabrak mobil box rokok ketika merokok di tengah jalan (ini namanya lebay).

Dan sodara-sodara, kita sudah sampai di level terbawah yang menjadi mayoritas diantara kita: inilah level haqqul yaqin. Bagi mereka, informasi bahaya rokok itu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, larangan merokok yang jelas terlihat, masuk mata kiri keluar mata kanan, dan asap rokoknya masuk lobang hidung kiri keluar lobang hidung kanan (keren banget yah?). Bahkan, ketika ada orang-orang di lingkungannya yang “kena batunya” akibat merokok (seperti dicontohkan di paragraph sebelumnya), dia tak akan jua jera. Kira-kira jawaban mereka gini deh “Aah,,itu kan lagi apesnya si X aja makanya dia jadi mandul”, atau “Aah,salahnya Pak RT aja ga ngerti tekniknya makanya dia kena gangguan kehamilan dan janin”, dan rupa-rupa jawaban ngeles yang lain yang sulit diikuti. Bagai bajay dibelah dua deh. Satu aja udah susah ditebak apalagi dibelah dua.

Right Man in The Right Treat
Tentunya bagi masing-masing golongan ini perlu ada perlakuan yang berbeda. Supaya masing-masing mendapat rasa adil, dan supaya hikmah peringatan dari surah Attakatsur ini bisa dirasakan. Bagi mereka golongan elit, ‘Ilmul Yaqin, perlu tentunya diberikan apresiasi yang setinggi-tingginya karena mereka, dengan ilmunya, at least telah menjadi contoh yang baik dalam menghindari sesuatu yang membawa madharat. Poin plus lagi jika mereka mau memberikan kampanye edukatif untuk lingkungan sekitarnya. Mengutip surah Attakatsur ayat 5, “..sekiranya kamu mengetahui dengan pasti (‘Ilmul Yaqin)”, yang bisa diartikan seandainya semua orang termasuk golongan ‘Ilmul Yaqin, yang mereka faham betul apa akibatnya jika mereka berbuat ini dan itu, sehingga mereka menjadi orang yang terbimbing dan tercerahkan dengan ilmunya. Bukankah Allah juga menyatakan bahwa para ahli ilmu ini akan ditinggikan kedudukannya beberapa derajat? (Almujaadilah:11). Idealnya tentu kita menginginkan semua orang menjadi golongan ‘ilmul yaqin, ya minimal diri sendiri.
Lantas bagaimanakah caranya mencapai taraf ‘Ilmul Yaqin ini? Adalah pendidikan, suatu cara untuk kita mencapai level ‘ilmul Yaqin. Dalam penerapannya, beberapa sampel kampanye edukatif anti rokok sudah kita lihat cukup banyak, namun tentunya kegiatan seperti ini harus terus ditingkatkan dan dicari cara yang paling efektif. Misalnya pada lingkungan pendidikan SD-SMP-SMA, dimana banyak sekali generasi muda yang sangat potensial untuk jadi generasi perokok dan sudah banyak juga yang menjadi perokok di usia sangat muda. Kita harus melihat bahwa di lain sisi, mereka juga sangat potensial untuk menjadi generasi antirokok. Pendidikan adalah langkah yang tepat untuk merekrut sebanyak-banyaknya orang ke level ‘Ilmul Yaqin ini.

Solusi pendidikan ini juga berlaku untuk level ‘Ainul Yaqin. Karena perlakuan yang tepat bagi mereka adalah dibuka mata selebar-lebarnya dan diberikan informasi/bukti yang nyata hingga muncul keyakinan di dalam dada (halah,,). Kembali mengutip surah Attakatsur, digambarkan bahwa golongan ‘Ainul Yaqin ini diperlihatkan kepadanya “neraka Jahim” dengan mata kepala sendiri, sehingga mereka tersadar akan akibat dari kesalahan yang mereka perbuat.
Sementara bagi level haqqul yaqin, satu-satunya cara untuk membuat mereka sadar adalah punishment. Mungkin dengan sendirinya para perokok akan mendapat hukuman itu ketika penyakit-penyakit yang menjadi ancaman akhirnya mereka derita. Namun dalam banyak contoh, mereka seringkali tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga orang lain. Beberapa perokok terlalu egois sehingga dengan innocentnya merokok di tempat umum tanpa peduli apakah disana ada ibu hamil, bayi, atau orang lain yang merasa dirugikan karenanya. Untuk mencegah adanya orang-orang egois yang membawa mudharat seperti ini, tentu perlu ada tindak hukuman yang tepat.

Beberapa Pemda seperti Jakarta dan Surabaya, sudah memberlakukan regulasi Perda Antirokok, sementara beberapa daerah lain sudah mulai mewacanakannya. Meskipun masih banyak inektifitas disana-sini, setidaknya sudah ada usaha untuk memberikan penyadaran. Karena inti tujuan dari pemberian sanksi ini adalah terciptanya kesadaran bersama hingga mencapai taraf yang ideal.

Sampel yang dijadikan analogi “perbuatan buruk” dalam tulisan ini adalah merokok, dengan neraka jahimnya berupa kanker, impotensi, gangguan kehamilan, dan janin. Tentu kita bisa menarik sampel yang lain dalam kerangka ini. Namun pada sampel apapun itu, akan selalu ditemukan 3 golongan yang menyikapinya: ‘Ilmul Yaqin yang tercerahkan, ‘Ainul Yaqin yang perlu dicerahkan, dan Haqqul Yaqin yang perlu disadarkan dengan hukuman. Tentu kita berharap menjadi orang-orang yang ‘Ilmul Yaqin. Yakni golongan orang-orang yang dengan ilmunya tidak hanya tercerahkan namun dapat juga mencerahkan orang lain.

Advertisements

Read Full Post »