Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Prosa bebas’ Category

Cogito Ergo Sum

Sigmud Freud, salah seorang pencetus hedonisme, dalam teorinya mengungkapkan bahwa manusia itu hanya sekedar makhluk yang ingin memenuhi keinginannya saja (baca: nafsu yang cenderung ke arah seks). Pertanyaannya, apakah benar hidup kita hanya terbatas pada pemenuhan nafsu? Lantas apakah bedanya manusia dengan seekor keledai yang juga hidup dalam nafsu : mencari makan, kawin, beranak dan lalu mati? Lantas untuk apakah akal ini ada, dan nurani insan bercerita pada kekuatan misteri yang menguasai dirinya? Socrates mengajak kita untuk berfikir dan merenung pada esensi eksistensi ini. Cogito Ergo Sum katanya, ”Aku berfikir maka aku ada”.Mari kita pertimbangkan apakah benar hedonisme merupakan pilihan hidup modernis yang akan membawa kita menuju kebahagiaan sejati. Plato, seorang filsuf besar dunia mengatakan,

”Nanti dalam kehidupannya, manusia akan terjebak dalam sebuah gua dengan kesenangan-kesenangan yang menghiasi di dalamnya. Seolah-olah disana mereka telah mencapai akhir tujuan hidup hingga mereka takut keluar dari gua untuk melihat dunia luar. Mereka cukup puas mengecap bahagia. Namun kebahagiaan itu sebenarnya kosong. Mereka tidak mengenali siapa sejatinya dan belum melihat keindahan luar biasa di luar dunia gua mereka.”

Analogikan bahwa diri ini adalah gua yang gulita, dimana diri hanya bisa melihat jasad dan kehidupan yang dilengkapi ego dan keinginan-keinginan: harta, seks, maupun afektif. Adapun hedonisme merupakan fungsi pada pemenuhan keinginan-keinginan itu. Segenap akal yang dimilikinya terperangkap pada kegelapan yang sempit untuk memikirkan pemuasan ego dan keinginan sekaligus mengabaikan hal-hal lain diluar pemenuhan itu. Sigmun Freud sendiri adalah seorang atheis yang tidak percaya pada penciptaan, pada kehidupan setelah mati. Dalam fikirannya hidup hanya untuk saat ini saja, dipuaskan sesaat lalu tiada.
Sementara di luar gua tersebut ada semesta raya yang selalu membuat kita berdecak kagum pada keindahannya dan kompleksitasnya yang serasi dan teratur. Seorang Harun Yahya, penemu teori keruntuhan evolusi telah memberikan gambaran yang memukau mengenai keajaiban alam semesta. Bahwa tidak mungkin semesta terjadi secara kebetulan. Pasti ada suatu eksistensi yang berada dibalik itu semua : pemilik, penjaga, pengatur, dan pemelihara alam semesta. Dunia luar inilah yang jauh dari jangkauan para hedonis. Mereka mandeg pada daya fikir ego dan nafsu sebagai manifes kehidupan hewani adanya. Hedonisme sangat jauh dari modernisme yang berfikir secara seksama dan berpandangan luas mengenai diri dan semestanya.
Maka mari kita beranjak pada cara berfikir yang lebih progresif tentang kehidupan ini dan merenungkannya dengan bijaksana. Bahwa sejak dilahirkan, manusia tidak mengenal hakikinya, pun hakiki semestanya. Ia gulita bersama tanda tanya: siapa aku, mau kemana aku, untuk apa aku hidup? Maka 14 abad silam, Sang Pemilik semesta ini memperkenalkan diriNya melalui risalah Al-Qur’an :
”Sungguh Aku ini ALLAH, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku..”
(QS.Thaha:14)
”Milik ALLAH lah segala apa yang ada di langit dan bumi..”
(QS. Albaqarah : 285)
Bahwa ALLAH adalah Tuhan semesta alam, satu-satunya yang layak disembah oleh manusia dan segenap makhluk-Nya. Karena Ialah pemilik jagat raya ini, pengatur dan pemeliharanya.
Melalui risalah itu pula ALLAH mempertunjukkan kebenaran demi kebenaran bagi manusia. Dibelalakkannya mata manusia pada ayat-ayat-Nya. Perhatikan ayat berikut :

” Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian kami menjadikannya mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluq dalam bentuk yang lain. Maha suci ALLAH , pencipta yang paling baik. (QS. Almu’minuun : 12-14)

Ayat penciptaan manusia ini merupakan temuan yang sangat spektakuler. Dapat kita bayangkan Rasulullah Muhammad, seorang lelaki buta huruf, 14 abad silam mempresentasikan kronologi penciptaan manusia secara ilmiah. Sementara ilmuwan modern baru menemukan kebenarannya pada abad milenium ini. Demikianlah ALLAH mengirim sinyal-sinyal hikmah melalui lintas qauniyah-qauliyah untuk meyakinkan manusia akan eksistensi ALLAH sebagai Tuhannya, Penguasa jagat semesta.
Selanjutnya ALLAH memberikan tuntunan kepada manusia mengenai tujuan hidup mereka, dan apa peran yang harus dilakukan.

”Dan tiada Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. At-Tur: 56)
” Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
(QS.Al-Anbiya : 107)

Bahwa sesungguhnya manusia membawa misi suci sejak ia dilahirkan, yakni sebagai rahmat (penebar kasih sayang) bagi semestanya semata-mata dalam kerangka ibadah kepada Tuhannya, Rabb semesta. Sebuah misi suci yang tidak dimiliki sekte hedonisme, suatu tujuan hidup yang akan bermuara pada pembalasan yang adil di akhirat kelak. Orang-orang yang beriman kapada ALLAH dan berbuat baik akan mendapat balasan baik berupa surga yang kekal nikmatnya, sementara Orang-orang yang ingkar dan berbuat kerusakan di muka bumi akan ditempatkan dalam neraka yang penuh siksa dan derita.
Sebagai penyempurna, ALLAH telah mengutus RasulNya untuk dijadikan panutan tingkah dan tata cara hidup manusia agar ia tak tersesat dalam kehidupan dunia.

”..maka kembalikanlah ia (urusan dunia) kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. Annisa : 59)

Fenomena aktual berbicara, gaya hidup hedonis telah merasuki sebagian besar kehidupan manusia. Khususnya di Indonesia, hedonisme tidak hanya menjangkiti kehidupan di kota-kota besar namun bahkan telah merangsek ke pelosok desa. Melalui tayangan-tayangan televisi, para pemirsa dibius pada halusinasi kehidupan hedonisme yang penuh kesenangan dan keindahan. Perhatikanlah tayangan sinetron indonesia yang penuh glamor, kehidupan artis yang serba bebas di serba-serbi gosip, dan perilaku-perilaku amoral yang dipertontonkan vulgar pada tayangan tengah malam.
Masyarakat diajak pada kehidupan yang melawan fitrahnya, memperturutkan hawa nafsunya, dan melupakan entitas dirinya. Maka tidak heran apabila kehidupan sosial indonesia berundur pada gaya hidup jahiliah, kegelapan yang dipenuhi kebodohan. Seks bebas digandrungi, pelacuran diminati, perselingkuhan jadi tren, Napza dan miras jadi pelarian, kriminalitas bertebaran, dan bencana datang bergantian. Ini merupakan suatu konsekuensi logis bahwa ketika manusia dibiarkan hidup sebebas-bebasnya, tanpa aturan yang benar, maka yang terjadi adalah kekacauan dan malapetaka. Bahwa ketika manusia, menebangi hutan seenaknya, yang terjadi adalah kebanjiran. Bahwa ketika dana pendidikan dikorupsi maka konsekuensinya adalah degradasi kualitas siswa didiknya.
Betapa ALLAH Maha Kasih telah berulang kali mengingatkan manusia untuk kembali kepada agamaNya yang fitrah, bukan pada kehidupan sebebas-bebasnya (hedonisme). ALLAH telah ingatkan kita melalui bencana tsunami, gempa bumi, banjir bandang, paceklik berkepanjangan, kecelakaan transportasi, penguasa yang lalim, dan segala keresahan-kesempitan dalam hidup ini. Maka seharusnya, sebagai manusia yang bijak dan berfikir, kita kembali pada fitrah kita dan misi suci kita : hamba ALLAH yang senantiasa hidup untuk menebarkan kasih sayang di muka bumi ini, amar ma’ruf nahi munkar.

”Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.”
(Al-Mursalat:28)

Advertisements

Read Full Post »

Maha Suci Allah yang telah menciptakan “kue” ini sebagai salahsatu tanda kekuasaanNya, agar manusia mau berfikir, menelaah, dan mengambil hikmah. Dialah yang telah menurunkan ketenangan atas nama cinta dan keimanan padaNya diatas cinta dan keimanan yang telah dipupuk sebelumnya (Alfath:4), karena bukankah dengan senantiasa berinteraksi denganNya hati manusia merasakan cinta yang menenangkan?

And the part begin..Let’s say cinta itu adalah kue *maklum alumni pangan yang nulis. Maka ingin sekali kukatakan bahwa ia adalah kue tercantik, terindah, dan terlezat yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia; yang setiap millimeter sentuhannya di lidah ini, membuat orang yang memakannya (secara sadar maupun tidak) ingin memejamkan mata, sembari mengunyah dan mengecapnya lebih perlahan, dengan tempo yang selambat-lambatnya; agar semua jenis enzim yang tersintesa dapat dengan padu bergumul bersamanya, mencerna tiap partikelnya, dan menyusupkan impuls-impuls ajaib itu kepada milyaran neuron sehingga terciptalah citarasa yang bahkan cerebellum kita tidak mampu menerjemahkannya sebagai apa.

Sungguh telah ditetapkanNya ketenangan hati manusia itu dalam lubuk jiwa pasangan hidupnya(Arrum:21). Dan telah ditakdirkanNya fitrah yang suci dalam dada manusia itu untuk menyimpan rasa cinta. Tak cukup sampai disitu, telah jua ia tetapkan koridor-koridor syariat agar cinta tetap terjaga flavornya, tetap semerbak aromanya, tetap bisa dinikmati dengan lezatnya, tanpa mengurangi keridhoan dariNya.

Dan sebagaimana citarasa kue pada umumnya, cinta pun memiliki nilai sensori yang beragam dan dapat dinilai secara subjektif oleh respondennya. Maha Mulia Allah, yang telah mengilhamkan hierarki nilai sensori ini dalam jiwa manusia, sehingga secara alamiah (jauh tertanam dalam hatinya) ia mampu mengenali getar-getar pesan suci ini.

Sejatinya, nilai sensori cinta memang tiada ambang batasnya. Namun analogikan saja penilaian cinta ini dengan scoring 1-9 dengan parameter overall (dinilai keseluruhan aspeknya secara integratif) agar lebih mudah bagi kita untuk mencernanya. Berikut penjabaran nilai 1-9 tersebut:

  1. Luar biasa tidak nikmat
  2. Sangat tidak nikmat
  3. Tidak nikmat
  4. Agak tidak nikmat
  5. Biasa saja
  6. Agak nikmat
  7. Nikmat
  8. Sangat nikmat
  9. Nikmat luar biasa, adiktif yang sangat amat

Naluri manusia akan secara spontan memberikan nilai tertinggi itu (9) ketika ia merasakan cintanya Sang Khaliq -Arrahman, Yang Maha Mencintai, Yang Maha Menggenggam cinta dan takkan pernah terputus cintaNya. Dimana ketika manusia mengecap partikel-partikel kue cinta ini, ia akan merasakan fenomena kelezatan yang sangat luar biasa. Inilah yang dinamakan sejatinya cinta. Betapa tidak, dari setiap detik kehidupan yang kita jalani, tak pernah luput cintaNya barang sedikitpun: dalam setiap nafas yang berhembus, dalam setiap degup jantung yang berdetak, dalam setiap horizon semesta yang dipenuhi oleh ayat-ayat cinta dariNya. Tak pelak cintaNya hidup begitu dekat, lebih dekat dari urat nadi ini, meskipun hambaNya senantiasa ingkar.

Hierarki nilai sensori ini kemudian menurun kepada Rasulullah, representasi manusia yang penuh rasa cinta kepada umatnya (termasuk kita). Betapa berat rasa cinta di dalam dada beliau, demi menginginkan agar seluruh umatnya bisa merasakan nikmatnya berislam dan beriman, demi merasakan sejatinya cinta. Dan demi ini pula, beliau mengorbankan segala yang dimilikinya untuk kebenaran cinta yang diilhamkan Allah kepadanya. Bahkan ketika menjelang wafatnya, ia menyebut-nyebut nama kita, seakan memanggil-manggil hati kecil ini untuk turut bersama-samanya dalam barisan cintaNya

Lantas muncul pertanyaan spontanitas, “kok selama ini aku belum merasakan cinta kepadaNya itu sebagai nikmat yang luar biasa ya?let’s say masih berkisar antara skor 5-8 atau (na’udzubillahi) bahkan dibawahnya. Justru aku malah merasakan hal seperti ini pada keluarga, pasangan hidup, atau lainnya”. Jika ini terjadi, maka layaklah kita banyak memohon ampun kepada Allah, karena sangat mungkin, terjadi bias luar biasa pada alat sensori kita. Apakah sebelumnya sudah terlalu banyak kita mengonsumsi “kue-kue” tak bermutu yang nilai sensorinya 5, 4, 3, 2, atau bahkan 1 sehingga indera pengecap kita terkontaminasi dan tidak mampu lagi mengenali flavornya dengan sempurna? Na’udzubillah, mari kita mohon agar dijauhkan dari peristiwa seperti ini.

Read Full Post »