Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘cinta’

Dalam hidup yang hanya sepetak ini, dalam usia yang jua tak seberapa, aku tau tempat akhir berpulangku: Kepada Nya, hanya kepada Nya. Sejak bermula pun sudah aku tentukan, sudah aku ikrarkan, melalui muasalku: tentang kemana akhir ku menuju, tentang siapa yang kan memanduku, tentang bagaimana kalbu ini menuntunku. Dan betapa sepetak hidup ini mengisahkan begitu banyak rona, begitu banyak kesan yang mendalam, melalui perenungan, melalui pengamatan, melalui percakapan, melalui peristiwa jiwa, melalui sekelebat ma’rifat yang masih tersekat, melalui juntai-rangkai jejak kehidupan yang membingungkan.

Hidup memang hanya sepetak, namun selaksa peristiwanya tlah menuntunku pada persimpangan-persimpangan jalan. Bukan satu, bukan sepuluh, tapi seribu. Duhai sahaya yang lemah ini betapa tiada letihnya menerjang aral, menepis godaan, meneriaki diri, demi mengais bahagia atas nama cinta Nya.

Hidup memang hanya sepetak, akan tetapi setiap mili-nya dipenuhi dengan misteri. Aku pun berjalan, selangkah demi selangkah. Menyusun keeping-keping puzzle yang berserakan. Menikmati keberhasilan atas keberhasilan. Merutuki kebodohan dan kekhilafan. Sekali lagi, hanya demi mengais bahagia atas nama cintaNya.

Maka Ya Rabb..Betapapun hebatnya aku dihadapan hambamu, betapapun gagahnya aku mengenakan topeng-topeng dunia, di hadapanMu aku menyerah, aku berserah, aku pasrah.

Demi setetes cintaMu yang sangat menyejukkan itu, yang beningnya mampu menghapuskan semua laraku, yang damainya mengggetarkan isak tangisku, yang nikmatnya membuatku tak henti bersyukur padaMu, aku mohon..berikan aku petunjukMu

Read Full Post »

Maha Suci Allah yang telah menciptakan “kue” ini sebagai salahsatu tanda kekuasaanNya, agar manusia mau berfikir, menelaah, dan mengambil hikmah. Dialah yang telah menurunkan ketenangan atas nama cinta dan keimanan padaNya diatas cinta dan keimanan yang telah dipupuk sebelumnya (Alfath:4), karena bukankah dengan senantiasa berinteraksi denganNya hati manusia merasakan cinta yang menenangkan?

And the part begin..Let’s say cinta itu adalah kue *maklum alumni pangan yang nulis. Maka ingin sekali kukatakan bahwa ia adalah kue tercantik, terindah, dan terlezat yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia; yang setiap millimeter sentuhannya di lidah ini, membuat orang yang memakannya (secara sadar maupun tidak) ingin memejamkan mata, sembari mengunyah dan mengecapnya lebih perlahan, dengan tempo yang selambat-lambatnya; agar semua jenis enzim yang tersintesa dapat dengan padu bergumul bersamanya, mencerna tiap partikelnya, dan menyusupkan impuls-impuls ajaib itu kepada milyaran neuron sehingga terciptalah citarasa yang bahkan cerebellum kita tidak mampu menerjemahkannya sebagai apa.

Sungguh telah ditetapkanNya ketenangan hati manusia itu dalam lubuk jiwa pasangan hidupnya(Arrum:21). Dan telah ditakdirkanNya fitrah yang suci dalam dada manusia itu untuk menyimpan rasa cinta. Tak cukup sampai disitu, telah jua ia tetapkan koridor-koridor syariat agar cinta tetap terjaga flavornya, tetap semerbak aromanya, tetap bisa dinikmati dengan lezatnya, tanpa mengurangi keridhoan dariNya.

Dan sebagaimana citarasa kue pada umumnya, cinta pun memiliki nilai sensori yang beragam dan dapat dinilai secara subjektif oleh respondennya. Maha Mulia Allah, yang telah mengilhamkan hierarki nilai sensori ini dalam jiwa manusia, sehingga secara alamiah (jauh tertanam dalam hatinya) ia mampu mengenali getar-getar pesan suci ini.

Sejatinya, nilai sensori cinta memang tiada ambang batasnya. Namun analogikan saja penilaian cinta ini dengan scoring 1-9 dengan parameter overall (dinilai keseluruhan aspeknya secara integratif) agar lebih mudah bagi kita untuk mencernanya. Berikut penjabaran nilai 1-9 tersebut:

  1. Luar biasa tidak nikmat
  2. Sangat tidak nikmat
  3. Tidak nikmat
  4. Agak tidak nikmat
  5. Biasa saja
  6. Agak nikmat
  7. Nikmat
  8. Sangat nikmat
  9. Nikmat luar biasa, adiktif yang sangat amat

Naluri manusia akan secara spontan memberikan nilai tertinggi itu (9) ketika ia merasakan cintanya Sang Khaliq -Arrahman, Yang Maha Mencintai, Yang Maha Menggenggam cinta dan takkan pernah terputus cintaNya. Dimana ketika manusia mengecap partikel-partikel kue cinta ini, ia akan merasakan fenomena kelezatan yang sangat luar biasa. Inilah yang dinamakan sejatinya cinta. Betapa tidak, dari setiap detik kehidupan yang kita jalani, tak pernah luput cintaNya barang sedikitpun: dalam setiap nafas yang berhembus, dalam setiap degup jantung yang berdetak, dalam setiap horizon semesta yang dipenuhi oleh ayat-ayat cinta dariNya. Tak pelak cintaNya hidup begitu dekat, lebih dekat dari urat nadi ini, meskipun hambaNya senantiasa ingkar.

Hierarki nilai sensori ini kemudian menurun kepada Rasulullah, representasi manusia yang penuh rasa cinta kepada umatnya (termasuk kita). Betapa berat rasa cinta di dalam dada beliau, demi menginginkan agar seluruh umatnya bisa merasakan nikmatnya berislam dan beriman, demi merasakan sejatinya cinta. Dan demi ini pula, beliau mengorbankan segala yang dimilikinya untuk kebenaran cinta yang diilhamkan Allah kepadanya. Bahkan ketika menjelang wafatnya, ia menyebut-nyebut nama kita, seakan memanggil-manggil hati kecil ini untuk turut bersama-samanya dalam barisan cintaNya

Lantas muncul pertanyaan spontanitas, “kok selama ini aku belum merasakan cinta kepadaNya itu sebagai nikmat yang luar biasa ya?let’s say masih berkisar antara skor 5-8 atau (na’udzubillahi) bahkan dibawahnya. Justru aku malah merasakan hal seperti ini pada keluarga, pasangan hidup, atau lainnya”. Jika ini terjadi, maka layaklah kita banyak memohon ampun kepada Allah, karena sangat mungkin, terjadi bias luar biasa pada alat sensori kita. Apakah sebelumnya sudah terlalu banyak kita mengonsumsi “kue-kue” tak bermutu yang nilai sensorinya 5, 4, 3, 2, atau bahkan 1 sehingga indera pengecap kita terkontaminasi dan tidak mampu lagi mengenali flavornya dengan sempurna? Na’udzubillah, mari kita mohon agar dijauhkan dari peristiwa seperti ini.

Read Full Post »

Hujan

Dan bahkan jariku pun terbata-bata
Demi menggoreskan sejengkal kalimat saja
Mungkin karena bayang-bayang senja itu masih membias di pelupuk mata
Membasahi tiap jejak relungnya dengan hujan yang tak mau reda

Tapi bagaimana lagi?
Aku terlanjur jatuh cinta
Pada jarum-jarum bening yang menusukkan dinginnya
Pada repih-repih tanah yang segar aromanya
Pada gemericik kecil yang memainkan simfoninya
Pada kegelisahan awan, angin,dan udaranya
Pada segala yang membuatku ingin memejamkan mata

Ingin kugambarkan suasana ini dalam sebuah sketsa
Kutulis jua puisi-puisi sederhana di bawahnya
Lalu kertasnya kulipat menjadi pesawat dan perahu
Kuterbangkan pesawatku nuju langit biru
Kuhanyutkan perahuku pada laut biru
Agar mereka –langit dan lautan itu –segera bertemu
Dalam hujan yang slalu kurindu

Read Full Post »