Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kue’

Maha Suci Allah yang telah menciptakan “kue” ini sebagai salahsatu tanda kekuasaanNya, agar manusia mau berfikir, menelaah, dan mengambil hikmah. Dialah yang telah menurunkan ketenangan atas nama cinta dan keimanan padaNya diatas cinta dan keimanan yang telah dipupuk sebelumnya (Alfath:4), karena bukankah dengan senantiasa berinteraksi denganNya hati manusia merasakan cinta yang menenangkan?

And the part begin..Let’s say cinta itu adalah kue *maklum alumni pangan yang nulis. Maka ingin sekali kukatakan bahwa ia adalah kue tercantik, terindah, dan terlezat yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia; yang setiap millimeter sentuhannya di lidah ini, membuat orang yang memakannya (secara sadar maupun tidak) ingin memejamkan mata, sembari mengunyah dan mengecapnya lebih perlahan, dengan tempo yang selambat-lambatnya; agar semua jenis enzim yang tersintesa dapat dengan padu bergumul bersamanya, mencerna tiap partikelnya, dan menyusupkan impuls-impuls ajaib itu kepada milyaran neuron sehingga terciptalah citarasa yang bahkan cerebellum kita tidak mampu menerjemahkannya sebagai apa.

Sungguh telah ditetapkanNya ketenangan hati manusia itu dalam lubuk jiwa pasangan hidupnya(Arrum:21). Dan telah ditakdirkanNya fitrah yang suci dalam dada manusia itu untuk menyimpan rasa cinta. Tak cukup sampai disitu, telah jua ia tetapkan koridor-koridor syariat agar cinta tetap terjaga flavornya, tetap semerbak aromanya, tetap bisa dinikmati dengan lezatnya, tanpa mengurangi keridhoan dariNya.

Dan sebagaimana citarasa kue pada umumnya, cinta pun memiliki nilai sensori yang beragam dan dapat dinilai secara subjektif oleh respondennya. Maha Mulia Allah, yang telah mengilhamkan hierarki nilai sensori ini dalam jiwa manusia, sehingga secara alamiah (jauh tertanam dalam hatinya) ia mampu mengenali getar-getar pesan suci ini.

Sejatinya, nilai sensori cinta memang tiada ambang batasnya. Namun analogikan saja penilaian cinta ini dengan scoring 1-9 dengan parameter overall (dinilai keseluruhan aspeknya secara integratif) agar lebih mudah bagi kita untuk mencernanya. Berikut penjabaran nilai 1-9 tersebut:

  1. Luar biasa tidak nikmat
  2. Sangat tidak nikmat
  3. Tidak nikmat
  4. Agak tidak nikmat
  5. Biasa saja
  6. Agak nikmat
  7. Nikmat
  8. Sangat nikmat
  9. Nikmat luar biasa, adiktif yang sangat amat

Naluri manusia akan secara spontan memberikan nilai tertinggi itu (9) ketika ia merasakan cintanya Sang Khaliq -Arrahman, Yang Maha Mencintai, Yang Maha Menggenggam cinta dan takkan pernah terputus cintaNya. Dimana ketika manusia mengecap partikel-partikel kue cinta ini, ia akan merasakan fenomena kelezatan yang sangat luar biasa. Inilah yang dinamakan sejatinya cinta. Betapa tidak, dari setiap detik kehidupan yang kita jalani, tak pernah luput cintaNya barang sedikitpun: dalam setiap nafas yang berhembus, dalam setiap degup jantung yang berdetak, dalam setiap horizon semesta yang dipenuhi oleh ayat-ayat cinta dariNya. Tak pelak cintaNya hidup begitu dekat, lebih dekat dari urat nadi ini, meskipun hambaNya senantiasa ingkar.

Hierarki nilai sensori ini kemudian menurun kepada Rasulullah, representasi manusia yang penuh rasa cinta kepada umatnya (termasuk kita). Betapa berat rasa cinta di dalam dada beliau, demi menginginkan agar seluruh umatnya bisa merasakan nikmatnya berislam dan beriman, demi merasakan sejatinya cinta. Dan demi ini pula, beliau mengorbankan segala yang dimilikinya untuk kebenaran cinta yang diilhamkan Allah kepadanya. Bahkan ketika menjelang wafatnya, ia menyebut-nyebut nama kita, seakan memanggil-manggil hati kecil ini untuk turut bersama-samanya dalam barisan cintaNya

Lantas muncul pertanyaan spontanitas, “kok selama ini aku belum merasakan cinta kepadaNya itu sebagai nikmat yang luar biasa ya?let’s say masih berkisar antara skor 5-8 atau (na’udzubillahi) bahkan dibawahnya. Justru aku malah merasakan hal seperti ini pada keluarga, pasangan hidup, atau lainnya”. Jika ini terjadi, maka layaklah kita banyak memohon ampun kepada Allah, karena sangat mungkin, terjadi bias luar biasa pada alat sensori kita. Apakah sebelumnya sudah terlalu banyak kita mengonsumsi “kue-kue” tak bermutu yang nilai sensorinya 5, 4, 3, 2, atau bahkan 1 sehingga indera pengecap kita terkontaminasi dan tidak mampu lagi mengenali flavornya dengan sempurna? Na’udzubillah, mari kita mohon agar dijauhkan dari peristiwa seperti ini.

Read Full Post »